Haiiii

Selamat datang di Blog Echiee
Semoga blog ini bisa menambah informasi teman2
heheh walaupun banyak curhatan sendiri
yuhu yang positif aja yg dicontoh ya...
silakan coment na :)
Ganbatte :)

Rabu, 10 Agustus 2011

Amankah Pemakaian Antibiotik Dalam Ternak?




Pemenuhan kebutuhan pokok hidup manusia salah satunya dengan makanan dan melalui makanan pula peningkatan kualitas sumber daya manusia dicapai. Makanan yang sehat dan bergizilah yang dibutuhkan Indonesia untuk meningkatkan kualitas negara Indonesia. Namun hal dasar ini sering kali dilupakan oleh masyarakat kita karena hal ekonomi. Faktor penghasilan yang menjadi salah satu penghambat masayarakat untuk mengkonsumsi produk-produk pangan yang sehat dan bergizi.
Salah satu penyumbang makanan yang sehat dan bergizi adalah sektor peternakan seperti produk telur, daging, susu, keju, dan produk-produk peternakan lainnya. Produk peternakan merupakan makanan yang mengandung protein tinggi serta asam-asam amino yang hanya ditemukan dalam produk hewani yang sangat penting dalam tubuh manusia. Namun, apakah produk peternakan yang kita konsumsi sudah sehat dan aman bagi tubuh kita?
Masyarakat Indonesia belum sepenuhnya memperhatikan tentang produk peternakan yang dikonsumsi sudah terbebas dari residu kimia (antibiotik, alfatoxin, dioxin) dan mikrobiologi berbahaya seperti salmonella. Peran pemerintah seharusnya lebih dominan dalam melindungi konsumen. Hal ini dapat dilakukan dengan pengontrolan produk-produk peternakan melalui system HACCP (hazard analyis and critical control points) sesuai dengan tahapan-tahapan yang telah tersusun secara sistematis dan disepakati bersama agar masyarakat aman mengkonsumsi produk-produk peternakan.

Antibiotik dalam Pakan Ternak
Sejak ilmuan berkebangsaan Rusia Metchnikoff (1908), berhasil mengklasifikasi jenis mikro-organisma yang terdapat dalam saluran pencernaan manusia, makin terkuak lebar peranan penting akan berbagai genera mikroflora bagi kehidupan makhluk hidup. Keseimbangan antara bakteri-bakteri yang menguntungkan dan merugikan dalam saluran pencernaan sepatutnya menjadi perhatian lebih demi terciptanya hidup yang sehat bagi manusia dan produksi yang tinggi bagi ternak. Keseimbangan populasi bakteri dalam saluran pencernaan (eubiosis) hanya dapat diraih apabila komposisi antara bakteri yang menguntungkan seperti Bifidobacteria dan Lactobacilli dan yang merugikan seperti Clostridia setidaknya 85% berbanding 15%. Dengan komposisi tersebut fungsi “barrier effect“ mikroflora yang menguntungkan dalam tubuh makhluk hidup dengan cara mencegah terbentuknya koloni bakteri patogen (colonisation resistence) bisa teroptimalkan.
Ketidakseimbangan populasi antara bakteri yang menguntungkan dan merugikan (dysbiosis) berakibat turunnya produksi ternak. Salah satu cara memodifikasi keseimbangan bakteri di dalam saluran pencernaan adalah dengan pemberian antibiotik. Antibiotik dipercayakan dapat menekan pertumbuhan bakteri-bakteri patogen yang berakibat melambungnya populasi bakteri menguntungkan dalam saluran pencernaan.Tingginya mikroflora menguntungkan tersebut dapat merangsang terbentuknya senyawa-senyawa antimikrobial, asam lemak bebas dan zat-zat asam sehingga terciptanya lingkungan kurang nyaman bagi pertumbuhan bakteri phatogen. Namun disayangkan penggunaan antibiotik berakibat buruk bagi ternak dikarenakan resistensi ternak terhadap jenis-jenis mikro-organisme phatogen tertentu. Hal ini telah terjadi pada peternakan unggas di North Carolina (Amerika Serikat) akibat pemberian antibiotik tertentu, ternak resisten terhadap Enrofloxacin yang berfungsi untuk membasmi bakteri Escherichia coli. Di bagian lain residu dari antibiotik akan terbawa dalam produk-produk ternak seperti daging, telur dan susu dan akan berbahaya bagi konsumen yang mengkonsumsinya.
Dilaporkan oleh Rusiana melalui penelitian 80 ekor ayam broiler di Jabotabek ditemukan 85% daging ayam broiler dan 37% hati ayam tercemar residu antibiotik tylosin, penicilin, oxytetracycline dan kanamycin. Penggunaan senyawa antibiotik dalam ransum ternak pun menjadi perdebatan sengit oleh para ilmuan akibat efek buruk yang ditimbulkan tidak hanya bagi ternak tetapi juga bagi konsumen yang mengkonsumsi produk ternak tersebut melalui residu yang ditinggalkan baik pada daging, susu maupun telur.

Dampak Penggunaan Antibiotik
Menurut drh. Dwi Priyowidodo, MP (dosen bagian parasitologi FKH UGM) penggunaan vaksin dalam pemeliharaan ternak sebenanya tidak masalah karena memang mikroorganisme yang dilemahkan atau dimatikan yang bertujuan untuk merangsang kekebalan tubuh ternak terhadap penyakit tertentu, sebaliknya dalam menggunakan antibiotik sebaiknya kita harus hati-hati karena antibiotik dapat menyebabkan residu. Residu bisa terjadi jika penggunaan antibiotik tidak sesuai dosis (berlebihan atau kekurangan). Faktor lain yang menyebabkan terjadinya residu antara lain peternak dan petugas lapangan yang tidak memperhatikan waktu henti obat.
drh. Dwi Priyowidodo, MP menjelaskan waktu henti antibiotik berbeda-beda tergantung jenis antibiotiknya. Proses antibiotik dalam mengobati ternak adalah antibiotik deserap oleh tubuh dan berada dalam batas konsentrasi tertentu untuk mengobati ayam pada waktu tertentu, obat ini tidak selalu tinggi konsentrasinya dalam tubuh karena akan dieliminasi melalui ekskreta. Proses eliminasi antibiotik ini membutuhkan waktu tertentu, dalam periode eliminasi ini sebaiknya produk ternak seperti daging dan susu jangan dikonsumsi terlebih dahulu, jika dikonsumsi maka produk peternakan tersebut akan mengandung residu. Kita harus mengetahui waktu henti masing-masing antibiotik, jika kita mengabaikannya maka produk peternakan akan mengandung residu yang akan membahayakan kesehatan konsumen.
Residu ini dapat ditemukan di daging, telur, susu, dan produk peternakan lainnya. Residu yang terkandung dalam produk peternakan bisa berupa antibiotik murni atau hasil pemecahan antibiotik itu sendiri. Misalnya amoxilin dimasukkan dalam tubuh ayam, residunya bisa berupa zat aktif amoxilin atau bisa juga produk lain hasil pecahan amoxilin, residu ini akan terakumlasi di dalam daging atau telur jika kita tidak memperhatikan waktu henti. Jika dalam waktu henti ini ayam, telur, susu di jual maka produk itu akan mengandung residu, yang jika dikonsumsi manusia secara terus-menerus akan membahayakan bagi kesehatan manusia, ungkap drh. Dwi Priyowidodo, MP.
Dampak residu ada tiga macam yaitu dampak toxisitas, mikrobiologi, imonotologi. Residu bisa menjadi toxik atau racun bagi organ-organ yang biasa digunakan untuk mengeliminasi antibiotik, ginjal, hati, dan organ-organ peredaran darah. Dampak mikrobiologi bagi tubuh terjadi apabila kita mengkonsumsi produk peternakan secara terus-menerus sehingga residu terakumulasi di dalam tubuh yang bisa menyebabakan resistensi bakteri tertentu dalam jangka waktu yang panjang, misalnya penisilin yang terakumlasi sehingga tubuh sudah resisten terhadap obat penisilin. Selain itu menyebabkan reaksi hypersensitivitas atau alergi (gatal-gatal), ungkap drh. Dwi Priyowidodo, MP.
Iswarawanti pada Seminar SEAMO (Southeast Asian Ministers of Education Organization) dan Tromed RCCN (Tropical Mendicine Regional Center for Community Nutrition) Universitas Indonesia di Jakarta menjelaskan penyakit yang ditimbulkan akibat mengonsumsi daging dan hati ayam broiler yang mengandung antibiotik itu secara berkepanjangan bisa menyebabkan teratogenic effect, carcinogenic effect, mutagenic effect dan resisten terhadap antibiotik sendiri. Rusiana yang menjabat Kepala Seksi Penilaian Produk Pangan Fungsional Badan Pengawasan Obat dan Makanan (POM) menjelaskan bahwa teratogenic effect adalah kandungan antibiotik bisa menyebabkan efek buruk untuk ibu yang mengandung, terutama untuk janinnya. Ibu yang mengandung bisa mengalami keguguran atau bayi yang dilahirkan cacat. Kalau carcinogenic effect, antibiotik yang masuk ke dalam tubuh dapat menyebabkan munculnya penyakit kanker. Sedangkan mutagenic effect, antibiotik dapat menimbulkan mutasi bagi mikroorganisme seperti bakteri.
drh. Dwi Priyowidodo, MP menjelaskan penggunaan antibiotik dapat menjadi aman atau tidak meninggalkan residu jika kita menggunakan antibiotik sesuai dosis, memperhatikan waktu henti obat, namun kenyataannya para peternak mengabaikan itu semua dengan alasan “rugi”. Misalnya waktu henti obat tujuh hari seharusnya peternak tidak menjual telur atau memotong ayam dalam waktu tersebut, namun karena tidak mau rugi jadi produk peternakannya tetap dijual dalam proses waktu henti tersebut sehingga produknya mengandung residu. Untuk mengatasi ini penerapan manajemen peternakan harus diperbaiki, petugas lapangan harus memberikan pengetahuan kepada para peternak tentang penggunaan antibiotik, dan juga kontrol pemeritah yang harus diperketat dalam penggunaan antibiotik karena ini sangat penting, banyak produk peternakan Indonesia yang ditolak ketika diekspor karena residu yang tinggi dalam produk peternakan (Deasi & Firman).



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar